Kementerian Perindustrian melalui Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Logam dan Mesin (BBSPJILM) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) online bertajuk “Sinergi Strategis BBSPJILM dan Asosiasi Logam dan Mesin” pada tanggal 5 Juni 2026 di Bandung. Kegiatan ini menjadi forum konsolidasi antara pemerintah, dan pelaku usaha untuk memperkuat daya saing sektor logam dan mesin di tengah dinamika ekonomi dan geopolitik global yang kian menantang.
FGD ini dihadiri oleh Direktur Industri Elektronika dan Telematika, perwakilan Direktorat Industri Maritim, Alat Transportasi dan Alat Pertahanan (IMATAP), perwakilan Direktorat Industri Permesinan dan Alat Pertanian (IPAMP) Kemenperin, perwakilan asosiasi industri logam dan mesin seperti GIAMM, HAPLI, GABEL, HINABI, ASIMPI, serta pelaku usaha hulu dan hilir. Dalam forum tersebut, para peserta membahas kondisi terkini industri, hambatan eksternal yang dihadapi, serta strategi pemanfaatan layanan jasa teknis BBSPJILM sebagai enabler peningkatan kualitas, efisiensi, dan inovasi di sektor logam dan mesin.
Data terbaru menunjukkan bahwa kontribusi sektor industri logam dan mesin terhadap PDB pada periode 2015-2025 menunjukkan tren menurun dari 5,16% pada tahun 2015 menjadi 4,42% pada tahun 2025, hal ini sejalan dengan tren penurunan kontribusi industri manufactur nasional dari 20,99% pada 2025 menjadi 19,07% pada tahun 2025. Namun setelah mencapai titik terendah pada tahun 2022 sebesar 4,17% dan 18,34% keduanya mulai pulih bertahap hingga mencapai 4,42% dan 19, 07% pada tahun 2025.
Industri manufaktur memegang peranan strategis dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Sepanjang tahun 2015-2025, sektor ini konsisten menyumbang sekitar 19 hingga 20 persen terhadap PDB nasional, menjadikan industri manufaktur sebagai sektor utama penyumbang PDB atau leading sektor pada struktur perekonomian di Indonesia.
Dalam pemaparannya, Kepala BBSPJILM Mogadishu Djati Ertanto, mengungkapkan optimisme terhadap sektor logam dan mesin nasional. Pada tahun 2025, sektor ini mencatat nilai PDB sebesar Rp715,5 triliun dengan laju pertumbuhan 5,51%, melampaui pertumbuhan manufaktur nasional secara umum.
“Pertumbuhan yang konsisten ini harus kita jaga. BBSPJILM berkomitmen untuk terus beradaptasi dan berkolaborasi dalam menyediakan layanan standardisasi, teknologi industri 4.0, hingga penerapan industri hijau guna mendukung industri yang maju dan berdaulat,” ujar Mogadishu.
Junadi Marki, Direktur Industri Elektronika dan Telematika (IET) Kemenperin menyatakan bahwa, sinergi antara BBSPJILM dan asosiasi logam dan mesin memiliki peran strategis dalam menjaga momentum ekspansi manufaktur nasional. “Di tengah ketidakpastian global, kemampuan kita untuk menjaga kualitas, keandalan, dan efisiensi industri logam dan mesin akan sangat menentukan daya saing nasional. BBSPJILM hadir sebagai mitra teknis yang menyediakan layanan standardisasi, pengujian, dan rekayasa untuk mendukung transformasi industri,” ujarnya.
Direktur IET menambahkan perlunya layanan keamanan siber, sistem manajemen keamanan informasi, integrasi teknologi manufaktur, otomasi, dan standar mutu menjadi kunci keberhasilan pengembangan ekosistem industri berbasis logam dan mesin. “Kami mendorong pelaku usaha untuk semakin memanfaatkan layanan jasa teknis BBSPJILM, mulai dari pengujian, sertifikasi, hingga konsultasi teknis, agar produk dan proses produksi dapat memenuhi standar nasional maupun internasional,” tambahnya.
Senada dengan itu, perwakilan Direktorat Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan (IMATAP) Kemenperin yang diwakilkan oleh Mayar Soeryo menegaskan bahwa sektor logam dan mesin merupakan tulang punggung bagi pengembangan industri alat transportasi, maritim, dan alat pertahanan dalam negeri. Peran BBLM sebagai enabler teknis dalam mengatasi tantangan ini melalui dukungan dalam pengujian, standardisasi, dan transformasi digital. “Kemandirian di sektor alat transportasi dan alat pertahanan tidak mungkin tercapai tanpa industri logam dan mesin yang kuat. Sinergi dengan BBSPJILM dan asosiasi menjadi krusial untuk memperdalam struktur industri, memperkuat rantai pasok domestik, serta meningkatkan penggunaan produk dalam negeri,” ungkapnya.
Kepala BBSPJILM Mogadishu menjelaskan bahwa lembaganya telah mengembangkan berbagai layanan jasa teknis yang dirancang untuk menjawab kebutuhan nyata pelaku industri. “BBSPJILM memiliki layanan standardisasi, pengujian, kalibrasi, inspeksi, serta layanan manufactur, design & engineering yang mencakup perancangan produk, simulasi teknik, dan 3D scanning. Layanan-layanan ini kami arahkan untuk membantu industri meningkatkan efisiensi proses, kualitas produk, dan kepatuhan terhadap standar,” jelasnya.
Dalam FGD, asosiasi logam dan mesin menyampaikan bahwa tantangan utama yang dihadapi pelaku industri antara lain adalah fluktuasi harga bahan baku, ketergantungan pada impor komponen tertentu, tuntutan kualitas dari pasar global, kewajiban untuk bergerak menuju produksi yang lebih efisien dan rendah emisi, ruang lingkup layanan pengujian dan sertifikasi untuk komoditi dengan standar militer / avionik (MIL-STD), harmonisasi standar dan keamanan siber. Peserta menilai bahwa kolaborasi terstruktur dengan BBSPJILM dapat mempercepat adopsi teknologi baru, memperbaiki kualitas produk, dan memperkuat posisi tawar industri nasional di pasar internasional.
FGD juga menggarisbawahi pentingnya percepatan transformasi hijau di sektor logam dan mesin. Di tengah kenaikan biaya energi dan tekanan global terhadap emisi, penerapan prinsip industri hijau dan efisiensi energi menjadi faktor kunci daya saing. Dalam hal ini, BBSPJILM siap mendukung industri melalui layanan teknis yang membantu optimasi proses, pemilihan teknologi yang lebih efisien, dan pemenuhan persyaratan standar terkait lingkungan.
Dari sisi kebijakan, perwakilan Kemenperin menyampaikan bahwa prioritas industri 2026 menekankan hilirisasi, penguatan ekspor, dan transformasi hijau yang berkelanjutan. Sinergi antara direktorat teknis, BBSPJILM, dan asosiasi industri dipandang sebagai cara efektif untuk menerjemahkan kebijakan tersebut menjadi program konkret di tingkat perusahaan, termasuk melalui peningkatan pemanfaatan jasa standardisasi, riset terapan, dan pendampingan teknis.
FGD menghasilkan beberapa butir kesepahaman awal, antara lain: penyusunan roadmap layanan teknis prioritas BBSPJILM yang selaras dengan kebutuhan asosiasi logam dan mesin; dukungan subsitusi impor; peningkatan kesadaran keamanan siber; pengembangan program pelatihan bersama terkait standardisasi, efisiensi proses; serta mekanisme komunikasi rutin untuk memantau isu lapangan dan respon kebijakan. Kesepahaman ini menjadi dasar bagi penguatan kemitraan jangka menengah antara BBSPJILM, asosiasi, dan unit pembina di Kemenperin.
Ke depan, BBSPJILM menargetkan peningkatan pemanfaatan layanan jasa teknis oleh pelaku industri logam dan mesin, baik skala besar maupun menengah-kecil. Melalui peningkatan kapasitas laboratorium, pemutakhiran peralatan, dan pengembangan kompetensi SDM, BBSPJILM diharapkan mampu memberikan layanan yang semakin cepat, akurat, dan relevan dengan kebutuhan pasar. Hal ini diharapkan akan berkontribusi pada peningkatan mutu produk, penguatan struktur industri, dan perluasan pasar ekspor.
BBSPJILM berharap FGD ini menjadi langkah awal yang kuat untuk memperkuat ekosistem industri logam dan mesin nasional. Dengan sinergi strategis antara BBSPJILM, asosiasi, dan pelaku usaha, pemerintah optimistis bahwa sektor logam dan mesin dapat menjadi motor penting dalam mewujudkan struktur industri yang lebih dalam, tangguh, dan berdaya saing tinggi di tingkat global, sejalan dengan agenda hilirisasi dan transformasi industri hijau yang terus digalakkan.


